Jumat, 27 Juli 2012

Mereka adalah guru kita semua…….



Wahai tunas Islam semua
Putra-putri belia, MWI berseru padamu
Buka pintu hatimu……..
Bersedia membimbing kita
Menuju jaya cita-cita…
Menjadi manusia mulia
Berpribadi satria…..
                                (Mars MWI)

                Tepat pukul 6.30 dering HPku berbunyi, membangunkanku dari tidur pagi sesudah sahurku hari jum’at ramadhan…… hmm… ada sms dari seorang teman lama di aliyah,dengan mata yang masih tertahan kantuk, huruf-haruf di HP masih terasa kabur dan pelan-pelan ku baca pesan itu………. Kata pertama membuatku terbelalak serta merta menghilangkan kantukku pagi ini. “innalillahi wa inna ilaihi roji’un”…… ya kata itu yang pertama tercetak dengan huruf kapital, kata yang mengisyaratkan akan suatu kematian, detak jantungku pun menderu lebih cepat seperti genderang perang. “siapa” hanya itu yang terfikir setelahnya olehku, siapa yang meninggal? Dengan hati-hati dan seksama kuteruskan membaca sms, pencarianku pun terhenti pada sebuah nama yang lagi-lagi tercetak dengan huruf kapital “BAPAK H. ABDUL MANAN”. Nama yang sangat lekat dalam ingatanku dan mungkin ingatan semua murid-murid beliau.
          Pikiranku pun mengembara liar ke masa lalu, dimana aku masih duduk di bangku Tsanawiyah, saat beliau mengajar Tarekh, dan memberi kesan pertama yang lucu, dengan kisah-kisah sejarah kenabian yang digubahnya menjadi sebuah dongeng yang penuh dengan improvisasi dan kelucuan, dengan gaya beliau yang sangat lucu, kami pun selalu  tertawa lepas mendengar kisah-kisah dalam pelajaran Tarekh, dan ini yang selalu kami nanti-nantikan ketika pelajaran Tarekh, seakan kami menjadi murid TK yang menunggu dongeng yang penuh fantasi dan imajinasi kami masing-masing. Apalagi ketika beliau pulang haji, ceritanya semakin gokil dengan bualan beliau yang sangat menarik. Tapi aku yakin beliau bukan sengaja membohongi kami dengan cerita yang dibuat-buat, beliau mungkin hanya ingin membuat bagaimana sejarah bisa menarik bagi anak-anak, tidak membosankan. Dan kenyataannya memang kami jadi senang dengan pelajaran Tarekh, senang menanti cerita beliau tentang perjuangan Nabi.
          Hal lain yang kuingat dari beliau adalah pada saat pelajaran Qiro’ah, beliau selalu menggambar sesuai judul, gambar delman adalah salah satu gambar yang kuingat. Karena kelucuan dan keceriaan beliau membuat kami jadi tidak takut, ada kedekatan tersendiri bagi kami murid-muridnya terlebih ketika beliau menjadi wali kelas kami yang pertama di kelas IC,karena itu kami kadang main ke rumah beliau, tapi kadang beliau sedang di sawah, kami pun dengan sabar menunggu beliau pulang. Pernah suatu ketika kami main dan di tinggal sama beliau entah kemana dan cukup lama, waktu beliau masuk ke ruang tamu, kami terkejut, beliau membawa “KULUB BUDHIN” dengan antusiasnya beliau bilang kalau ini bukan kulub biasa karena bikinnya pakai “sajeng” (air nira dari manggar pohon kelapa yang biasa untuk membuat gula jawa/gula merah). Ya…. Dengan polosnya kami bilang, wah jadi ngrepotin neh pak, padahal kami senang sekali, kami pura-pura malu untuk makan kulub itu, tapi ketika beliau kebelakang sebentar, kami semua langsung makan,…. Uuhhh dasar anak-anak kalau ga ada orangnya aja baru berani makan padahal dari tadi udah nahan pingin makan, hehehe…….
          Itulah beliau dalam kenangan kami sekarang, seorang guru yang kami rasa tidak pernah marah di kelas ataupun diluar kelas, guru yang mengenalkan kami tentang sejarah kenabian.
          Kenangan tentang guru-guru yang lain pun tiba-tiba muncul dalam ingatanku. Tentang bapak “ahmad rozin” atau yang akrab kami panggil dengan “pak Tiran”. Beliau adalah guru bahasa Arab kami……  الدّرس الاوّل  itulah bahasa Arab pertama yang kami tau dari beliau. Pak Tiran suka duduk di sebelah murid-murid yang perempuan kadang ngobrol atau sekedar menanyakan orang tua kami, tapi kalau beliau duduk di sebelah murid yang laki-laki, beliau selalu minta dipijitin…… dan ga kebayang dulu kami harus menghafal 20 dars tiap ujian lesan catur wulan. Biarpun susah kami pun tetap berjuang untuk menghapalnya meski kami belum terlalu paham nanti manfaatnya menghapal buat kami, tapi ketika kami menterjamahkan bahasa arab atau kami disuruh membuat kalimat, kadang kami mengingat-ingat bahasa Arabnya dalam hafalan tersebut.
          Lain lagi dengan almarhum bapak “Prapto”,  beliau adalah guru Fiqh, mengajarkan kami tentang tata cara ibadah, tapi yang aku ingat adalah ketika beliau bilang
       ما هو الإسلام ؟itulah yang beliau pertama ajarkan pada kami. Mengajarkan pada kami bagaimana tata tertib shalat yang benar, tentang puasa, dan tentang ibadah-ibadah yang lain.
          Lalu tentang bapak “Marjuned”. Sebenarnya saya tidak pernah diajar beliau, karena ketika saya masuk aliyah beliau sudah pensiun, tapi beliau tetaplah menjadi bagian dari keluarga MWI, beliau mengajar tafsir yang kata kakak-kakak kelas kalau menerjemahkan sangat cepat sekali, jadi anak-anak sering ketinggalan menulis muqoyadahnya. Hahaha….. kebiasaan anak-anak MWI kalalu sudah begini, mereka ngampasi di bukunya, atau ada yang menulis utuh, kami biasa sebut dengan Koran, tapi inilah yang sering dicari anak-anak kalau mau ujian.
          Dan yang terakhir yang takan pernah hilang dan takan pernah usang dalam memoriku adalah bapak “Syahida”. Beliau adalah guru faroid di aliyah, mengajarkan tentang ilmu waris,mungkin cerita lengkapnya bisa anda baca pada tulasan saya yang berjudul “in memorial”
          Ya….. itulah sepenggal kisah tentang guru-guru kami di MWI, yang perjuangannya takan pernah terhapus dalam sejarah MWI. Bapak Abdul Manan, beliau yang mengenalkan kami tentang sejarah kenabian, bapak Ahmad Rozin yang mengajarkan kami tentang bahasa Arab, memperkaya kosa kata bahasa Arab kami, bapak Prapto yang mengajarkan kami bagaimana beribadah yang benar, bapak Juned yang mengajarkan kami tentang tafsir ayat-ayat al-Qur’an, dan bapak Syahida yang mengajarkan pada kami tentang ilmu waris.
          Mereka adalah bapak bagi kita semua murid-muridnya, perjuangaannya yang tanpa tanda jasa yang kita semua tidak bisa membalasnya. Wafatnya mereka  menyimpan kesedihan tersendiri bagi kami, perjuangan di medan jihad ilmu pengetahuan mudah-mudahan menjadi amal jariyah yang takan perah terputus bagi mereka guru-guru kami.
Bapak maafkan kami yang mungkin pernah berbuat tidak sopan kepadamu, yang mungkin menyakiti hatimu, dan dengan kesedihan yang mendalam banyak dari sebagian kami yang tidak bisa mengantarkanmu sampai tempat peristirahatan terakhir, namun do’a kami selalu teriring teruntukmu bapak-bapak kami…… terimakasih atas ilmu yang engkau berikan pada kami….. terima kasih karena engkau telah mengantarkan kami pada cita-cita kami….. terima kasih untuk bekal yang engkau berikan untuk menata masa depan kami…

Kita siswa-siswi MWI
siap berkorban tuk mengabdi
menuntut ilmu dengan semangat murni
mencari kebenaran abadi
dengan Qur’an dan sunah Nabi
jagalah diri….
Kita berkarya dan beramal
Berjihad untuk Islam nan jaya……….
Berjihad untuk islam nan jaya………….
                        (hymne ipmawi)
Dedicate for my lovely teachers and my school
Memory @ Yogyakarta
Jum’at 27 Juli 2012
BY
Dhie Fie Syahida

Senin, 25 Juni 2012

in memorial


In Memorial

Derai hujan membasahi bumi
Iringi kepergianmu dari sisiku
Samar terdengar langkahmu menjauh
Memudar tanpa jejak dan menghilang
Ku tak mampu hadapi semua
Ku tak sanggup lewati waktu
Tanpa hadirmu yang selalu mengilhami……
                        (krisna & new spektrum)

Delapan tahun berlalu dalam sebuah “memory”……. Ya hanya sebuah “memory”. Dan takan pernah menjadi memori yang “spesial” bagi siapapun, karena bagi orang lain mungkin ini hanya sebuah cerita masa lalu, dan mungkin akan segera “usang” dalam ingatan. Dan bagi orang yang tidak mengenalnya ini adalah sebuah cerita “biasa”.
* Cerita tentang seorang “guru” di sebuah madrasah swasta di desa kecil. Bagi orang lain beliau adalah seorang guru, hanya seorang guru atau mungkin seseorang yang dalam sejarah terkait dengan perjuangan madrasah itu. Dan hanya sebatas itu orang mengenalnya, sebatas seorang “guru” yang ceritanya semakin “usang” seiring berjalannya waktu.
“namun” di balik semua itu beliau adalah sosok ayah bagi anak2nya, dan juga bagiku, dia adalah ayah…. Ya hanya sosok ayah yang ku kenal darinya.
Dimana orang mulai melupakan namanya, nama yang mulai “usang”.
* Mungkin tak ada yang mengingat ketika beliau berangkat pagi2 ke sekolah, dengan buku yang di jinjingnya tanpa tas, peci hitan yang dikenakannya, dengan sepatu yang selalu mengkilat. Ya memori itu sudah hilang, tapi tidak bagi anak2nya.
* Suasana belajar di kelas dengan suasana yang kompetitif yang sehat tanpa sadar tercipta, beliau selalu memberi soal dan bagi siswa yang sudah selesai mengerjakan soal lansung membawa ke meja beliau, siswa berlomba menjadi yang tercepat mengerjakannya. Dan ini bagi sebagian teman2ku, juga bagi alumni yang pernah diajar beliau, memori ini mungkin sudah hilang, tapi tidak bagiku, karena aku mengenangnya sebagai seorang “ayah”. Bukan sebagi seorang “guru”
* di kelaspun dia tetap ayah bagiku. Dan ini menjadikanku mengingat banyak memori di kelasnya. Aku masih ingat ketika beliau sering bilang pada siswa yang belum sarapan untuk izin keluar tidak mengikuti pelajaran sebentar, untuk sarapan di kantin. Dan aku yakin memori ini juga hilang dalam ingatan siswa2nya.
“namun” dalam cerita anak2nya nama itu takan pernah “usang”, meskipun beliau sudah tidak ada, namun namanya takan pernah “usang” sampai kelak dalam keadaan apapun.
Dan aku bersyukur menjadi putri kecilnya, karena dengan itu, memori tentangnya takan pernah “usang” dalam ingatanku.
* Ada hal yang membuatku benci padanya sewaktu aku masih kecil. Yaitu ketika aku bermain kesorean sampai ga mandi2, beliau selalu memukulku dengan kayu atau menyambukku dengan sapu lidi bahkan sampai aku dikejarnya ketika aku kabur. Pukulan ayah selalu aku takutkan karena terasa sakit dan perih, dan selalu saja aku menangis kesakitan……… memori ini juga takan perah “usang” meskipun pedih tapi hal ini kurindukan darinya, rindu “perhatian” darinya.
* dalam pernikahan kedua kakakku. suasana haru pilu selalu mewarnai, kucuran air mata yang tertahan ketika akad nikah diucapkan, membuat dada terasa sesak. Entah apa yang terjadi dalam perasaanku, dalam perasaan semua kakak2ku, kami mungkin merasakan kehadirannya dengan cara kami masing2.
Memori semua tentang seorang “guru” yang itu adalah ayahku memang adalah seutuhnya milik keluargaku. Bukan memori orang lain dan “bukan lagi” dalam sejarah sekolahan itu.
“Namun” gedung sekolah yang di depan mata itu seolah selalu berbicara pada “kami”. Tentang sebuah memorinya, tentang sebuah “mimpinya”. Mimpi yang mungkin sulit diteruskan oleh “kami” anak2nya.
Sebuah sekolah yang sepertinya sedikit demi sedikit menjauh dari cita-citanya, juga cita-citaku. Sebuah “paradoks” yang terjadi dalam sudut pandang. Dan aku pun tak berani mengungkap lebih jauh lagi di sini, karena mungkin ini murni hanya perasaanku saja. Terasa KAKU dalam sebuah perjuangan pendidikan di sekolah, dan enntahlah….. bahkan aku sempat mendengar, kakak2ku yang bekerja disana merasa lelah untuk berjuang terus, tapi aku bangga pada mereka, karena sampai detik ini masih bertahan walaupun kadang lelah dan putus asa.
Tinggal aku sekarang……..? dalam kondisi sekarang, di titik sekarang, dalam kebimbangan dan keragu-raguan tentang “mimpiku” “mimpi ayah” “mimpi sekolah”, menjadi sebuah “trilogi” yang “paradoks” tanpa “titik temu” dalam tujuan hidupku. Karena terkadang ada perasaan kecewa yang terlintas tentang kondisi sekarang “apapun itu” terhadap sebuah gedung di depan mata yang kini hanya bisa membisu……..
And the end,  everything about you, “my father”, is always in my dream although I am in a doubt about it
Maaf ayah………

Dedicate for my father
Memory in Yogyakarta
Senin, 25 Juni 2012

(Dhie Fie Syahida)


Rabu, 11 April 2012

lupa bersyukur kawand.....?

Suatu hari seorang bayi lahir ke dunia ini, bersamanya ada sebuah bekal potensi yang akan terus berkembang selama hidup di dunia, dengan semua ketersedian fasilitas yang sangat memadai.
            Awal hidupnya di dunia, samar terdengar suara yang melantunkan asma-Nya, seorang lelaki dengan air mata haru yang terurai di pipinya, dialah ayah sosok pertama yang mengingatkan tentang perjanjian agung yang pernah dibuat antara Tuhan dengannya sewaktu di rahim ibu. Meski selalu saja perjanjian itu terlupakan, dan selalu saja ada ayah, ibu, saudara, teman, guru, atau entah siapapun itu yang mengingatkan kembali tentang perjanjian agung itu. Selama lantunan itu terus berdengung di telingan kanan dan kirinya, bayi itu tak berhenti menangis, mungkin cuma seorang bayi yang memahami kemahabesaran-Nya, mungkin kecemasan tak tertandingi yang dirasakan bayi itu. Dan dengan sentuhan lembut ibu, bayi itu mulai tenang, dia minum dari ibu, mendapatkan suapan pertama juga dari ibu. Begitulah Tuhan menjaga seorang bayi yang baru lahir, disampingnya ada ayah yang siap mendidiknya, ada sesosok ibu yang selalu siap menghapus air matanya. Setiap bayi mendapat bagian dari kasih sayang-Nya, bayi itu termasuk aku, kamu, dia, mereka, kalian, dan semua manusia. Nikmat pertama yang kita dapat adalah kondisi keluarga kita, menangis, tertawa, sedih, bahagia, cemas, tersenyum, kaya, miskin, semangat, putus asa, meraih kesuksesan, kegagalan, kehilangan, berkelahi, beda pendapat, bercanda, cinta, rindu, apapun itu keluarga menjadi tempat mengeluh dan berbagi. Dengan kelengkapan itu semua terkadang manusia lupa dengan Tuhan, padalah semua rasa itu adalah pemberian Tuhan. Kemanakah kita selama itu? Sudahkah kita berterimaksih pada-Nya.
            Beranjak dewasa ketika manusia sudah mampu berbicara, membaca, mendengar,dan menulis. banyak kata yang keluar darinya, mulai hal yang sederhana sampai pada hal yang kompleks, mulai dari berbicara harian, curhat dengan teman, mengeluh kepada keluarga, berdo’a kepada Tuhan, orasi, ceramah,presentasi, mengajar dikelas, mengomentari pertandingan bola. Namun didalam itu semua manusia sering tidak mengerti bagaimana proser sebuah bunyi itu keluar dari mulut. pita suara bergetar dengan sebuah kontrol yang tidak kita mengerti, lidah menekuk atau melentur ditempat yang sudah semestinya, tekanan udaran yang kita keluarkan dari mutut, sengau hidung yang tidak menghambat keluarnya bunyi, hanya untuk satu huruf saja membutuhkan proses yang begitu rumit. Ketika manusia mampu mendengar, menikmati lantunan musik, melihat pertunjukkan drama dan banyak hal lain yang sering didengar oleh telinga manusia, terkadang kita kagum dengan suara indah sang penyanyi, terpukau dengan ucapan bijak sang penyair. Ya seperti itulah manusia selalu mengagumi apa yang ditulis, dibaca, didengar, dan di ucapkan, tapi sering kali lupa untuk mengagumi bahwa kita bisa menulis, membaca, mendenga, dan berbicara. Begitulah Tuhan memberi nikmat pada manusia dengan membekali keempat kemampuan berbahasa itu untuk memenuhi kebutuhan hidup.
            Hmm…. Sekarang mari kita lihat pada kehidupan dunia, anda pasti mengetahui Thomas Alfa Adison, seluruh dunia berterimaksih atas penemuan bola lampunya, mengagung-agungkan namanya, dalam sains jasanya takan pernah terlupakan, manusia tinggal membayar listrik tiap bulannya untuk menikmati hasil penemuan Adison. Namun pernahkan kita mengucapkan terimakasih atas penciptaan matahari untuk kehidupan kita? Indahnya bumi bisa kita nikmati dengan adanya sinar matahari, Dia menciptakan bola lampu yang sangat besar untuk manusia, tanpa harus bayar, tanpa pernah mati, matahari juga dilengkapi dengan suhu panas untuh menunjang kehidupan manusia. Belum lagi penemu-penemu lain yang kita kagumi seperti Einsten, Charles Darwin, James Watt, Alexander Graham Bell, Galio Galilie, dan entah siapa lagi yang mendapatkan perhargaan dari manusia atas jasanya. Pencerahan bijak dari Plato, Aristoteles, Socrates yang menjadi dasar pijakan perkembangan ilmu pengetahuan. Di dalam itu semua manusia terhanyut dengan kesombongannya dan salah menempatkan ketundukannya pada ilmu, bukan pada sumber ilmu yang sesungguhnya, Al ‘Aliim.
Kemudian dalam pertanian manusia selalu bangga dengan bibit unggul hasil pencangkokkan atau perkawinan yang bisa berbuah lebat dan manis, para petani bersuka cita atas panen yang berlimpah. Namum pernahkah kita berfikir siapa yang mengatur itu semua untuk kesejahteraan manusia? Bagaimana bisa mangga dalam satu pohon bisa berlainan warna, berlainan rasa,manis, masam, hambar, mampukah manusia mengatur itu sendiri? Lalu kemanakah selama ini nikmat ini kita sandarkan?
Begitu banyak nikmat Tuhan pada kita, sejak kita lahir kedunia sampai nantinya kita mati, tak peduli manusia lupa bersyukur atau tidak, Tuhan selalu menyediakan pangan untuk kita, menundukkan laut untuk kita ambil rizkinya. Bahkan binatang melatapun Dialah yang member rizki, lalu bagaimana manusia bisa protes atas kekurangan rizki dari-Nya.
Nikmat diberi keluarga yang selalu mendukung kita, diberi teman yang member warna pada kita. Nikmat untuk berekspresi mengungkapkan rasa sedih, bahagia, cemas, takut, senang, dan ekspresi lain yang terkadang kita tak mampu mengungkapkan dengan kata-kata. Nikmat matahari, bulan, bumi, angin. Nikmat potensi manusia. Dan nikmat kehidupan lain yang takan pernah cukup kita tulis. Dan pertanyaan sederhananya adalah mampukah manusia mendustakan nikmat Tuhan?    فبايّ الآء ربّكما تكذّبن   bahkan Tuhan menyebutkan ayat tersebut berkali-kali dalam surat Ar-Rahman, dalam ayat ke 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77. Ya tidak cukup satu kali Tuhan mempertanyakan itu pada manusia. Begitu tersumbatkah hati dan pikiran manusia hingga berkali-kali diperingatkan?
Dalam sebuah perumpamaan menyebutkan  bahwa perbandingan antara rasa syukur manusia dengan nikmat yang diberikan Tuhan adalah rasa syukur manusia itu baru setetes air dilaut, dan nikmat Tuhan adalah sebanyak lautnya.
Catatan ini bukanlah untuk membela Allah, karena Allah tidak perlu dibela. Juga bukan untuk mengagungkan Tuhan, karena Tuhan dengan sendirinya Maha Agung, tak perlu pengagungan dari manusia, dan takan berkurang keagungan-Nya jika kamu tidak mengagungkan-Nya. Bukan Allah yang membutuhkan manusia, tapi manusia yang membutuhkan Allah, bukan Allah yang membutuhkan pengagunganmu, tapi kamu yang butuh mengagungkan-Nya. Bukan Tuhan yang butuh rasa syukurmu, tapi kamulah yang membutuhkan untuk bersyukur pada Allah.
“maka nikmat Tuhanmu mana yang kamu dustakan?”

Memory @ eidelwis
10 Maret 2012
By
Dhie_Fie Syahida

Senin, 26 Maret 2012

cinta yang keliru

Namaku adalah Nahwa, aku adalah seorang gadis remaja dan ini adalah kisahku yang hendak ku bagikan pada siapa saja yang sedang mencari cinta sejati, dan meletakkan cinta sejati itu pada cinta yang tertiggi.

Jiwaku dipenuhi udara yang meyejukkan setiap detak dalam jantungku. Aku yang kini telah bersanding dengannya dalam ikatan cinta seolah menylap hidupku lebih bergairah lagi. Kusapa dia tiap pagi dengan sebutan paling mesra….. “mas, kakak, beby, hany, sayang, cinta…atau apalah yang jelas itu panggilan sayangku padanya. Dan terkadang dia yang menyapaku lebih dulu dan akhirnya berujung pada sebuah kencan, entah itu dinner  atupun jalan-jalan.
Sepertinya yang kurasakan sama seperti yang dirasakan pasangan kekasih yang lagi kasmaran. Ya……seperti itulah kelayakan yang terjadi di dunia remaja saat ini, pun akhirnya aku yang tak bisa menghindar dari kebiasaan ini, karena kurasakan sebuah rasa bahagia yang berbeda.
                Saat dia menyatakan ikrar cintanya padaku, serasa jantung ini berdegub lebih cepat. Dan akupun menyatakan iya, karena memang rasa ini ada untuknya. Hari-hari kulalaui dengan sebuah kebahagiaan sebagai kekasihnya. Layaknya sepasang kekasih yang sedang berbunga-bunga, setiap saat aku tak lupa untuk menanyakan kabarnya, sudah makan apa belum?, hari ini mau kemana?, pulang jam berapa?, dan selalu kusampaikan “hati-hati ya say….di jalan” meski dia pergi untuk menjemputku. Sebuah senyum ku ukir untuk menyambut kedatanganya. Beberapa saat sebelum dia datang, aku menyibukkan diri dengan berdandan rapi, wangi dan bersih, selalu seperti itu yang ku lakukan ketika aku hendakbertemu kekasihku itu.  Dan setiap malam selalu ada sms darinya padahal sorenya dia baru mengantarku pulang, sebelum tidur pun dia selalu mengucapkan selamat malam, have a nice dream, mimpiin aku ya, dan entahlah ada aja kata-kata romantis yang dia kirim lewat sms. Terkadang juga aku yang mengucapkan terlebih dulu.
                Sesekali dia memberiku sebuah coklat, katanya sebagai tanda sayang  padaku, dan kuucapkan banyak tanda terimakasih dengan menunjukkan perhatian yang lebih pada kekasihku. Coklat itu terasa begitu manis, walaupun sebenarnya rasanya sama seperti coklat yang lain, tapi karena dia yang member jadi terasa berbeda. Sebuah boneka pun pernah dia berikan padaku saat ulang tahunku, dan menjadi teman tidurku setiap malam. Tak luput sebuah bunga pernah ia kirimkan padaku.
                Pernah dia memberiku sebuah kejutan di hari jadi kami yang pertama, dia memberiku sebuah bibit bunga mawar. Awalnya terasa biasa tapi ketika dia bilang “ bibit bunga ini adalah benih cintaku padamu, jika kamu menjaga dan menyiraminya serta memberi  pupuk yang cukup maka akan tumbuh subur dan bahkan berbunga indah” dan bunga itupun ku rawat setiap hari layaknya aku menjaga cintanya padaku.
                Sesekali ada pertengkaran dlm hubungan ini, dan seringnya aku yang minta maaf lebih dulu. Beberapa kali dia marah, dan ku rayu dengan kata-kata manis, terkadang dengan sebuah penjelasan yang cukup rumit dan menguras emosi, tapi tetap ku lakukan karena aku ga mau kehilangan dia.
                Ya….aku sangat mencintainya, begitupun juga dia………malam-malam terasa indah jika ada sapaan manis darinya, tidurku pun terurai dengan sebuah senuym. Tapi malam ini aku sedikit gelisah, tidak ada sms masuk dari dia semanjak tadi pagi belum ada kabar darinya, ku sms pun tak ada balasan, ku telfon ga diangkat….sampai larut aku ga bisa tidur, sampai akhirnya ada sebuah sms darinya “ maaf say  HP mas ketinggalan karena tadi buru-buru berangatnya, lain kali ga akan terulang lagi, mas  janji, met  bobo ya”. Hmm………sms darinya mengantarkanku dalam tidur yang nyenyak………
Lalu aku terbangun, seperti biasa ku ambil HPku untuk mengucapkan selamat pagi padanya. Tapi ku rasakan tempatku berbeda, HP yang ku cari tak ada….dan entahlah aku merasa bingung….di hadapanku terbenang sebuah padang rumput nan hijau dan hembusan angin begitu sejuk, air sungai yang mengalir memanjakan rasa keindahan ini, tapi tak kudapati siapapun, aku seorang diri, aku berjalan terus dan kulihat ada sebuah rumah yang begitu megah dan indah, tanpa pikir panjang ku langkahkan kaki ke rumah itu. Ku ucapkan salam…….dan ada sambutan salam dari dalam rumah, hatiku sedikit merasa lega, karena setidaknya aku tidak sendiri di tempat ini.
                Beberapa saat ku nanti…..dan yang muncul sesosok  laki-laki berpakaian serba putih. Dan tak ku pedulikan hal itu, aku hanya bersikap layaknya seorang tamu. Di sela-sela obrolan kami sesekali aku memperhatikan isi rumah itu, begitu indah, nyaman, rapi, dan begitu banyak hiasan yang mempercantik rumah itu sehingga siapapun akan betah berlama-lama tinggal di dalamnya. Sampai akhirnya aku bertanya padanya,…..wahai tuan….siapa gerangan yang memiliki rumah seindah ini di tengah taman hijau yang sejuk ini? “belum  ada yang memiliki” jawabnya singkat. Sebelum ku lontarkan pertanyaan lagi, laki-laki itu meneruskan ucapan yang sepertinya sudah tak ada lanjutannya lagi. “ sebenarnya pemilik rumah ini adalah seorang gadis cantik bernama Nahwa, tapi aku ragu apakah dia bisa menjadi penghuni rumah ini atau tidak” tiba-tiba tubuhnya terasa seperti lumpuh, darah yang mengalir seakan berhenti, lidahku terasa berat untuk kuanggat, sedikit-sedikit kupaksakan, dan dengan tergagap aku bertanya pada lelaki itu, kenapa perempuan itu tidak bisa menghuni rumah ini?
                Beberapa saat rumah itu menjadi hening, tak ada suara keluar dari mulut lelaki itu, sementara tubuhku semakin terasa lemas, lalu tiba-tiba keheningan itu pecah ketikan lelaki itu mulai menjawab pertanyaanku. “Sebenarnya ini adalah rumah surgu baginya, namun sepertinya dia tidak menginginkan ini”.  Tanpa bisa kulanjutkan pertanyaanku, akhirnya aku hanya menunggu ucapan selanjutnya dari lelaki itu, untuk mencari jawab penasaranku.
                Perempuan itu melalaikan Tuhannya, dia mencintai kekasihnya lebih dari dia mencintai Tuhan. Ketika adzan berkumandang menyapanya, dia tak pernah bergegas untuk mengmbil air wudlu, dia lebih memilih untuk menyapa kekasihnya itu. Tiap bangun tidur dan sebelum tidur, perempuan itu selalu mengucapkan selamat pagi dan selamat malam, dan dia melupakan untuk berdo’a padaNya. Lalu sering mengucapkan terimaksih pada kekasihnya ketika di beri coklat, tapi tak pernah bersyukur ketika di beri secawan madu oleh Tuhannya. Yang lebih parah lagi, dia selalu merawat bibit mawar dari kekasihnya, namun mengabaikan benih iman yang diberikan Tuhan sewaktu dia masih kecil.perempuan itu merawat pohon itu sampai berbunga indah. Tapi pohon imannya layu karena tak pernah disiram dengan asmaNya. Dan ketika dia hendak shalat, dia kurang memperhatikan pakaiannya, padahal dia selalu berdandan rapi ketika mau bertemu kekasihnya. Lalu kesalahan terfatal yang dia lakukan adalah tidak menghiraukan murka Tuhan padanya. Dia tak pernah peduli jika Tuhan marah padanya, tidak takut ketika Tuhan marah , dia lebih takut kalau kekasihnya marah. Dia merasa gelisah kalau kekasihnya jauh, tapi dia tak pernah gelisah ketika Tuhan menjauh darinya.
Sungguh kasihan sekali perempuan itu, menyia-nyiakan rumah surga yang dipersiapkan untuknya. Tubuhku serasa tak kuat lagi mendengar  ucapan lelaki berbaju putih itu, udara menyesakkan dadaku, cahayapun tiba-tiba menghilang, sekitarku terasa gelap, hanya terdengar suara berisik, ya berisik sekali….sampai aku tersentak………Subhanallah…..kata itu keluar dari mulutku setelah sekian lama hilang, tubuhku basah oleh keringat, dan ternyata suara berisih itu adalah suara telfon dari kekasihku, saat itu aku baru sadar bahwa peristiwa tadi adalah mimpi. Lalu kuangkat tefton itu. “temui aku jam 8 pagi di tempat biasa” klik off……ku matikan HPku.
Tepat jam 8 dia menemui, dan tanpa ucapan mesra kukatakan padanya, “ nikahi aku atau lebih baik kita putus”…..dengan wajah yang sedikit tercengan dia bertanya balik padaku. “Kenapa say?”
“aku tak mau kehilangan rumah surgaku”.  Tanpa…ba…bi…bu….. lagi, kutinggalkan dia pergi.

Mungkin fenomena seperti ini banyak terjadi di kalangan remaja……. Tanpa mengurangi rasa hormat pada para pembaca, jika anda laki-laki……segera nikahilah perempuan yang kamu cintai jika sudah siap, dan jika belum siap maka jangan jalin hubungan yang manjauhkan padaNya
Bagi perempuan, sudah saatnya bersikap tegas pada lelaki. Jadilah perempuan terhormat di wajahNya, tanpa menjadi perempuan murahan.
“Sesungguhnya perempuan baik-baik untuk laki-laki yang baik-baik”……..( ada ayat di al-Qur’an yang meyatakan seperti ini, tapi saya lupa surat apa ayat berapa, mungkin pembaca bisa mencarinya sendiri)
“Letakkan cinta tertinggi hanya padaNya”

Memory’s
selasa, 05 Oktober 2010
By
Dhie_Fie

tentang rasa....bag II

satu rasa itu kembali pada-Nya
berlabuhnya kapal setelah karam
bertahannya karang dari hempasan ombak
kembali tersenyum karna-Nya

bermekar-nya bunga di tengah padang nan tandus
meski semua orang menertawakannya
tapi tak ada yang mustahil bagi-Nya

ya....hanya Dia.....
alasan semua rasa ini.....
rasa yang membuat hati tertawa
sewarna pelangi setelah hujan....

tentang rasa..........

benarkah akan ada pelangi setelah hujan
bisakah alam terlihat hijau bila diselimuti kabut
dan bisakah tersenyum bila hati sering tersakiti

dimana....dimana...dimana....
kutemukan jawaban tentang rasa ini?
kalau bintang saja hilang ditelan malam
dan hujan semakin deras....

sekuat apapun karang
lama-lama juga akan habis
bila selalu dihempas ombak

lalu dimanakah aku bisa temukan tentang rasa
satu rasa yang mengerti
akan sebuah kelemahan hati
ah....entahlah....

Minggu, 25 Maret 2012

Jadikan buah lemon
Minuman yang manis

            Orang cerdik akan berusaha merubah kerugian menjadi keuntungan, sedang orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk dan berlipat ganda.
          Ketika Rosulullah SAW di usir dari Mekah, beliau memutuskan untuk menetap di Madinah dan kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah kota yang sangat akrab di telinga dan mata sejarah.
          Ahmad bin Hambal pernah dipenjara dan dihukum dera, tapi karenanya pula ia menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu Taimiyah pernah dipenjara tetapi justru diperjara itulah ia banyak melahirkan karya. Assaraksi pernah dikurung didasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi ditempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak 20 jilid. Demikian halnya dengan Ibnu Jawzy ia pernah diasingkan dari Bagdad, dan karena itu ia menguasai qirrah sa’bah. Malik bin Amraib adalah penderita penyakit mematikan, namun ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah dan tak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman abbasiyah. lalu ketika semua anak Abi Zu’aib al-Hudzali, mati meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan nyanyian-nyanyian puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan saat mendengarnya kembali.
          Begitulah ketika tertimpa musibah, anda harus melihat sisi yang paling terang darinya. Ketika seseorang memberi anda segelas air lemon, anda perlu menambah sesendok gula ke dalamnya. Ketika mendapat hadiah seekor ular ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian tubuh yang lain. Ketika disengat kalajengking, ketahuilah bahwa sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan pada tubuh anda dari bahaya bisa ular.
          Kendalikan diri anda dari bahaya atau kesulitan yang anda hadapi! Dengan begitu anda akan dapat mempersembahkan bunga mawar dan melati yang harum kepada dunia, terutama orang-orang yang menyayangi anda.
          Sebelum terjadi revolusi besar di Prancis, konon negara itu pernah memenjara dua sastrawan terkenalnya. Salah seorang darinya sangat optimis dan salah seorang lagi pesimis bahwa revolusi dan perubahan akan segera terjadi. Setiap hari keduanya sama-sama melongokkan kepalanya melalui sel-sel jeruji. Hanya saja sang optimis selalu memandang ke atas dan melihat bintang-bintang yang gemerlap dilangit, dan karena itu ia selalu tersenyum cerah. Sedangkan sang pesimis, ia selalu melihat kearah bawah dan hanya melihat tanah hitam di depan penjara, da kemudian menangis sedih.
          Ketika keasaman hidup menyapa, dan anda tidak bisa untuk tidak meminumnya, maka lebih baik anda menambahkan gula atau madu untuk menetralisir rasa asam. Lemon yang terasa asam itu bisa anda campur dengan teh atau air lainnya,….. lemon tea…..
          So……. Tinggal bagaimana anda meracik keasaman dalam hidup menjadi hal yang manis. Ketika keburukan terjadi tambahkanlah sedikit senyum sebagai pemanis, jika sedih yang anda rasakan berilah tawa didalamnya, jika pesimis yang anda rasakan berilah sedikit semangat untuk membangun rasa optimis, jika kegagalan yang anda hadapi maka siapkanlah langkah suksesmu berikutnya, dan kembalilah melangkah menggapai mimpi.
          Begitulah, sebaiknya anda selalu melihat sisi lain dari kesedihan itu, sebab belum tentu semuanya menyedihkan, pasti ada kebaikan, secercah harapan jalan keluar serta pahala. Maka jadikanlah lemon itu minuman yang manis. Semanis senyummu pada dunia……….(^_^)

Kausalitas

Senja sore ini langit begitu merah merayu….. memanjakan rasa lelah setelah sehari beraktivitas. Tidak heran seorang perempuan paruh baya men...