Senin, 25 Juni 2012

in memorial


In Memorial

Derai hujan membasahi bumi
Iringi kepergianmu dari sisiku
Samar terdengar langkahmu menjauh
Memudar tanpa jejak dan menghilang
Ku tak mampu hadapi semua
Ku tak sanggup lewati waktu
Tanpa hadirmu yang selalu mengilhami……
                        (krisna & new spektrum)

Delapan tahun berlalu dalam sebuah “memory”……. Ya hanya sebuah “memory”. Dan takan pernah menjadi memori yang “spesial” bagi siapapun, karena bagi orang lain mungkin ini hanya sebuah cerita masa lalu, dan mungkin akan segera “usang” dalam ingatan. Dan bagi orang yang tidak mengenalnya ini adalah sebuah cerita “biasa”.
* Cerita tentang seorang “guru” di sebuah madrasah swasta di desa kecil. Bagi orang lain beliau adalah seorang guru, hanya seorang guru atau mungkin seseorang yang dalam sejarah terkait dengan perjuangan madrasah itu. Dan hanya sebatas itu orang mengenalnya, sebatas seorang “guru” yang ceritanya semakin “usang” seiring berjalannya waktu.
“namun” di balik semua itu beliau adalah sosok ayah bagi anak2nya, dan juga bagiku, dia adalah ayah…. Ya hanya sosok ayah yang ku kenal darinya.
Dimana orang mulai melupakan namanya, nama yang mulai “usang”.
* Mungkin tak ada yang mengingat ketika beliau berangkat pagi2 ke sekolah, dengan buku yang di jinjingnya tanpa tas, peci hitan yang dikenakannya, dengan sepatu yang selalu mengkilat. Ya memori itu sudah hilang, tapi tidak bagi anak2nya.
* Suasana belajar di kelas dengan suasana yang kompetitif yang sehat tanpa sadar tercipta, beliau selalu memberi soal dan bagi siswa yang sudah selesai mengerjakan soal lansung membawa ke meja beliau, siswa berlomba menjadi yang tercepat mengerjakannya. Dan ini bagi sebagian teman2ku, juga bagi alumni yang pernah diajar beliau, memori ini mungkin sudah hilang, tapi tidak bagiku, karena aku mengenangnya sebagai seorang “ayah”. Bukan sebagi seorang “guru”
* di kelaspun dia tetap ayah bagiku. Dan ini menjadikanku mengingat banyak memori di kelasnya. Aku masih ingat ketika beliau sering bilang pada siswa yang belum sarapan untuk izin keluar tidak mengikuti pelajaran sebentar, untuk sarapan di kantin. Dan aku yakin memori ini juga hilang dalam ingatan siswa2nya.
“namun” dalam cerita anak2nya nama itu takan pernah “usang”, meskipun beliau sudah tidak ada, namun namanya takan pernah “usang” sampai kelak dalam keadaan apapun.
Dan aku bersyukur menjadi putri kecilnya, karena dengan itu, memori tentangnya takan pernah “usang” dalam ingatanku.
* Ada hal yang membuatku benci padanya sewaktu aku masih kecil. Yaitu ketika aku bermain kesorean sampai ga mandi2, beliau selalu memukulku dengan kayu atau menyambukku dengan sapu lidi bahkan sampai aku dikejarnya ketika aku kabur. Pukulan ayah selalu aku takutkan karena terasa sakit dan perih, dan selalu saja aku menangis kesakitan……… memori ini juga takan perah “usang” meskipun pedih tapi hal ini kurindukan darinya, rindu “perhatian” darinya.
* dalam pernikahan kedua kakakku. suasana haru pilu selalu mewarnai, kucuran air mata yang tertahan ketika akad nikah diucapkan, membuat dada terasa sesak. Entah apa yang terjadi dalam perasaanku, dalam perasaan semua kakak2ku, kami mungkin merasakan kehadirannya dengan cara kami masing2.
Memori semua tentang seorang “guru” yang itu adalah ayahku memang adalah seutuhnya milik keluargaku. Bukan memori orang lain dan “bukan lagi” dalam sejarah sekolahan itu.
“Namun” gedung sekolah yang di depan mata itu seolah selalu berbicara pada “kami”. Tentang sebuah memorinya, tentang sebuah “mimpinya”. Mimpi yang mungkin sulit diteruskan oleh “kami” anak2nya.
Sebuah sekolah yang sepertinya sedikit demi sedikit menjauh dari cita-citanya, juga cita-citaku. Sebuah “paradoks” yang terjadi dalam sudut pandang. Dan aku pun tak berani mengungkap lebih jauh lagi di sini, karena mungkin ini murni hanya perasaanku saja. Terasa KAKU dalam sebuah perjuangan pendidikan di sekolah, dan enntahlah….. bahkan aku sempat mendengar, kakak2ku yang bekerja disana merasa lelah untuk berjuang terus, tapi aku bangga pada mereka, karena sampai detik ini masih bertahan walaupun kadang lelah dan putus asa.
Tinggal aku sekarang……..? dalam kondisi sekarang, di titik sekarang, dalam kebimbangan dan keragu-raguan tentang “mimpiku” “mimpi ayah” “mimpi sekolah”, menjadi sebuah “trilogi” yang “paradoks” tanpa “titik temu” dalam tujuan hidupku. Karena terkadang ada perasaan kecewa yang terlintas tentang kondisi sekarang “apapun itu” terhadap sebuah gedung di depan mata yang kini hanya bisa membisu……..
And the end,  everything about you, “my father”, is always in my dream although I am in a doubt about it
Maaf ayah………

Dedicate for my father
Memory in Yogyakarta
Senin, 25 Juni 2012

(Dhie Fie Syahida)


Kausalitas

Senja sore ini langit begitu merah merayu….. memanjakan rasa lelah setelah sehari beraktivitas. Tidak heran seorang perempuan paruh baya men...