Selasa, 11 Februari 2014

“KUFUR NIKMAT DI DALAM UCAPAN”





Ruang lingkup tauhid (mengEsakan Allah) mencakup atau meliputi tiga bagian yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain, yaitu tauhid yang berupa keyakinan dalam hati, tauhid berupa amalan pada anggota tubuh, dan tauhid ucapan pada lisan. Jadi tiga kunci dalam tauhid, yaitu; Keyakinan, Amalan, dan Ucapan.




            Pembahasan kali ini hanya menfokuskan pada Tauhid Ucapan, pengingkaran terhadap hal ini sering terjadi karena kebanyakan orang tidak mengetahui atau mengetahui tapi tidak menyadari, atau mungkin menyadari,mengetahui tapi sengaja, ini banyak terkait tentang nikmat dari Allah.




            Nikmat adalah segala anugrah yang diberikan Allah kepada makhluk, seperti: nikmat kesehatan, harta benda, selamat dari bahaya, sebuah prestasi, jabatan….,




  




يعرفون نعمت الله ثمّ ينكرونها وأكثرهم الكفرون




“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (An-nahl ayat 83)

 




Ibnu Jarir berkata: sesungguhnya ulama takwil (tafsir) berbeda pendapat tentang yang dimaksud dengan nikmat. Suffyan menyebutkan dari As-Suddiy, “mereka mengetahui nikmat Allah, tetapi kemudian mereka mengingkarinya”.  Ia berkata bahwa nikmat itu adalah “Muhammad”, yang lain berkata: “ akan tetapi artinya, mereka mengetahui bahwa nikmat-nikmat yang Allah sebutkan dalam surat ini adalah dari sisi Allah, dan Allah-lah yang member nikmat itu kepada mereka, akan tetapi mereka mengingkari itu, dengan mengatakan bahwa mereka mewarisi nikmat itu dari bapak-bapak mereka”.




Berikut adalah hadits yang menafsirkan surat An-Nahl ayat 83.

 




قال مجاهد: ما معناه. هو قول الرّجل: هذا مالي ورثته عن أبائي.




Dalam menafsirkan ayat di atas, Mujahid berkata bahwa maksudnya adalah kata-kata seseorang “ini adalah harta kekayaanku yang diwariskan oleh nenek moyangku”.

 




وقال قتيبة: يقولون: هذا بشافعة ألهتنا.




Menurut tafsiran Ibnu Qutaibah: “mereka itu mengatakan, ini berkat syafaat sesembahan-sesembahan kami”.

 




وقال عون بن عبد الله: يقولون لولا فلان لم يكن كذا.




‘Aun bin Abdullah berkata: “yakni kata mereka, kalau bukan karena Fulan, tentu tidak akan menjadi begini”.




            Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid, tentang ayat “mereka mengetahui nikmat Allah,(tetapi) kemudian mereka mengingkarinya,”. Ia berkata bahwa nikmat itu adalah rumah-rumah, binatang-binatang ternak, dan rezeki yang deluar darinya, baju dari besi dan dari kain. Orang-orang kafir Quraisy mengetahui ini kemudian mengingkarinya. Mereka berkata “ini dahulu milik bapak-bapak kami lalu mereka mewariskannya pada kami”. Yang lain berkata: “Artinya adalah, bahwa orang-orang kafir jika dikatakan kepada mereka siapa yang member rizki kepadamu? Mereka mengakui bahwa Allah-lah yang member rizki kepada mereka, kemudian mereka mengingkarinya dengan perkataan mereka “Allah memberi rizki kepada kami, dengan syafaan tuhan-tuhan kami”. Orang disebut kufur nikmat yaitu karena mereka telah menetapkan dalam hati mereka bahwa Allah pemberi rizki, tapi kemudian mereka katakan: “    هذا مالي ورثته عن أبائي ini hartaku, aku mewarisinya dari orangtuaku, هذا بشافعة ألهتنا ini karena pertolongan nenek moyang kami”. Atau dengan perkataan yang semisal.




            Hadits berikutnya dari ‘Aun bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud Al Hudzali, ia adalah Abu Abdullah Al Kufi, seorang ahli zuhud. Ia meriwayatka hadits dari ayahnya, Aisyah dan Ibnu Abbas, meriwayatkan dari Qatadah, Abu az-Zubair dan az-Zuhri, Ahmad dan Ibnu Ma’in menganggapnya sebagai orang yang tsiqah. Bukhari berkata: “mereka mengetahui nikmat Allah, (tetapi) kemudian mengingkarinya”. ‘Aun bin Abdullah mengatakan dalam menafsirkan ayat di atas, yakni kata mereka “kalau bukan karena Fulan, tentu tidak akan menjadi begini dan begini”. Ibnu Jarir memilih perkataan yang pertama. Sedangkan yang lainnya memilih pendapat yang menyatakan, bahwa ayat tersebut mencakup seluruh apa yang disebutkan para ulama.




لو disini diartikan untung, tujune, bara-bara, dan kata yang semakna dengan itu. Contoh ucapan kufur nikmat yang sering di ucapkan adalah, “untung ada kamu, sehingga saudaramu tidak mati, untung ada anjing kecil ini, untung kamu kesini….”  Ini menunjukkan bahwa penyandaran nikmat pada selain Allah. Supaya tidak kufur, maka ucapan itu harus di awali




الحمد لله ربّ العلمين   misal “Alhamdulillah ayahku pulang dari Jakarta, jadi aku di kasih uang.

 




وقال أبو العبّاس بعد حديث زيد بن خالد الّذي فيه أنّ الله تعالى قال: أصبح من عبادي مؤمن بي وكافر._الحديث_ وقد تقدّم. وهذا كثير في الكتاب السّنّة يدمّ سبحانه من يضيف إنعامه إلى غيره ويشرك به.




قال بعض السّلف : هو كقولهم: كانت الرّيح طيّبة والملاح حاذقا، ونحو ذلك ممّا هو جار على السنة كثير.

 




Abu Al Abbas berkata setelah mengupas hadits Zaid bin Khalid yang telah lewat yang terdapat firman Allah dalam hadits Qudsi, “Sebagian dari hamba-hamba-Ku ada yang beriman kapada-Ku dan sebagian yang lain kafir”, hal ini banyak terdapat dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Allah Ta’ala mencela orang yang berbuat syirik kepada-Nya dengan menisbatkan nikmat-Nya kepada selain-Nya.




Diantara kaum salaf ada yang mengatakan: “yaitu seperti kata mereka, “Anginnya bagus, nahkidanya tangkas”, dan sebagainya yang sering keluar dari ucapan orang banyak”.




            Perkataan Syaikhul Islam menunjukkan, bahwa hukum ayat ini adalah umum tentang orang yang menisbatkan nikmat kepada selain Allah, dan mengakukan sebab-sebabnya dating dari selain-Nya. “ di sana ada dua hal yang saling bertentangan dalam hati dan ucapan, seperti ini juga disebut ingkar nikmat.




Ketika mereka ditanya kenapa perjalanannya ko cepat? Mereka menjawab, anginnya baik dan nahkodanya cerdik. Ini menggambarkan bahwa orang ini menyandarkan kepada selain Allah, sehingga disebut kufur nikmat. Supaya tidak kufur nikmat maka ucapan itu harus di awali Alhamdulillah atau bi idznillah.




So……!!! Hati-hati kawan ketikan anda mengucapkan “UNTUNGLAH”




By: Dhie_Fie Syahida



# sumber rujukan Syaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh, Fathul Majid: Syarah Kitab Tauhid, penerjemah; Ibtida’in Hamzah, Abu Azka, Abu Al Haris, Editor; Muhammad Yusuf Harun, Rahmat Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Jakarta, Pustaka Azzam, 2005 (hal 771)

Kausalitas

Senja sore ini langit begitu merah merayu….. memanjakan rasa lelah setelah sehari beraktivitas. Tidak heran seorang perempuan paruh baya men...