Sabtu, 19 Januari 2013

DANAU PARA SUFI





ayah akan bercerita. Maukah kau mendengarnya? Ayah janji ini cerita terakhir”.
Aku mengangguk.
Ayah menarik napas dalam-dalam, memperbaiki posisi berbaringnya. “kau pasti selalu bertanya-tanya, apa ibu kau bahagia?akan ayah ceritakan apakah ibu kau sesungguhnya bahagia atau tidak.
“dalam suatu perjalanan jauh yang pernah ayah lakukan, ayah tiba di perkampungan para sufi. Kau tau apa sufi? Sufi adalah orang-orang yang tidak mencintai dunia dan seisinya. Mereka sibuk memikirkan hal lain. Memikirkan filsafat hidup, makna kehidupan, dan prinsip-prinsip yang agung. Ayah tahu, diantara banyak sufi, tidak semuanya berhasil mencapai pemahaman yang sempurna tentang kehidupan. Ada yang baru tertatih belajar tentang kenapa kita harus hidup. Ada yang sudah mencapai pemahaman apa tujuan dan makna hidup, ada pula yang telah berhasil melakukan perjalanan spiritual hingga memahami hakikat sejati kebahagian hidup.
“itu pertanyaan terpenting ayah. Apa hakikat sejati kebahagian hidup? Apa definisi kebahagiaan? Kenapa tiba-tiba kita merasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa kita tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan, atau sekedar kabar buruk? Kenapa hidup kita seperti dikendalikan sebuah benda yang disebut hati? Tidak ada di antara sekelompok sufi itu yang bisa memberikan penjelasan memuaskan. Mereka menggeleng, hingga akhirnya salah seorang dari mereka menyarankan ayah berangkat ke salah satu lereng gunung. Di sana tinggal salah satu sufi besar, ribuan muridnya, bijak orangnya, boleh jadi dia tahu jawabannya. Ayah bergegas mengemas ransel, berangkat siang itu juga.
“ayah menemui sang guru. Dia menerima ayah dengan ramah, member kesempatan ayah bertanya. Pertanyaan ayah hanya satu, Dam. Apa hakikat sejati kebahagian hidup?  Dengan memahaminya, seluruh kesedihan akan menguap seperti embun terkena sinar matahari. Dengan memilikinya, setiap hari kita bisa menghela napas bahagia. Sang guru terdiam lama, menggeleng, berkata bahwa ayah memberikan pertanyaan yang dia tidak tahu, tidak ada orang di dunia ini yang bisa menjawabnya. Ayah mendesah kecewa, kemana lagi harus mencari tahu. Sang guru menatap ayah lamat-lamat, berfikir sejenak. Seberapa tangguh ayah mencari tahu?ayah berkata mantap, apapun akan ayah lakukan.
“sang guru tersenyum. Dia memberikan pekerjaan teraneh yang pernah ayah tahu. Seratus mil dari lereng gunung tempat dia bermukim terdapat tanah luas di tepi hutan. Ada perkampungan dekat hutan itu. Perkampungan itu butuh sumber mata air berupa danau. Sang guru menyuruh ayah membuat danau di tanah luas itu. Astaga, Dam, benar-benar sebuah danau. Itu bukan pekerjaan mudah”. Ayah tertawa pelan membuat napasnya sedikit tersenggal.
“sang guru bilang, ‘ketika kau berhasil membuat danau indah yang jernih bagai air mata, kau akan mendapatkan jawaban hakikat sejati kebahagiaan. Berangkatlah, setahun kemudian aku akan datang, aku akan melihat apakah danau itu sudah sebening air mata.’
Walau tidak punya ide apapun soal danau itu, ayah mengangguk mantap. Ayah sudah menduga, definisi kebahagian sejati seharga pengorbanan besar. Itu pencapaian paling tinggi seorang sufi, dan sepertinya tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca buku atau bertanya. Ayah berangkat memulai pekerjaan besar itu, membuat danau yang cukup untuk satu kampong.
“kau tahu, Dam, tidak berbilang tanah yang harus ayah pindahkan. Berkubang licak setiap hari, mulai bekerja saat matahari terbit, baru berhenti ketika matahari tenggelam. Ayah baru berhenti saat galian itu memiliki kedalaman tiga meter, luasnya sebesar lapangan bola. Pekerjaan ayah baru separuh selesai. Ayah kemudian membuat parit-parit dari mata air yang ada di hutan, mengalirkannya kelubang danau. Setahun berlalu, danau itu jadi. Ayah tersenyum senang. Tidak lama lagi jawaban pertanyaan itu datang. Lihatlah, danau yang ayah buat sebening air mata.
“sesuai janji, sang guru datang menjenguk ayah pada hari yang ditentukan. Sialnya, malam sebelum dia datang, hujan turun. Sumber mata air yang ada di hutan menjadi kotor. Ayah yang semangat mengajak sang guru ke tepi danau mendesah kecewa. Lihat, danau yang ayah buat jauh dari bening., berubah keruh. Sang guru menepuk bahu ayah. Sang guru berkata, ayah tidak boleh putus asa. Tahun depan sang guru akan kembali.
“setelah memikirkan jalan keluarnya. Ayah memutuskan membuat saringan di setiap parit, agar air keruh dan kotor dari mata air ketika hujan turun tetap bening saat tiba di danau. Ayah mengerjakannya dengan senang hati. Ide ini akan berhasil. Ayah juga memperbaiki saluran parit yang bermuara ke danau, memastikan tidak ada sumbernya yang bermasalah. Sedikit saja ada air keruh masuk, danau sekristal air mata langsung tercemar.
“setahun berlalu lagi, sang guru datang menjenguk ayah. Lihat, danau buatan ayah indah tiada terkira. Pantulan dedaunan di atas permukaan danau seperti nyata. Ayah tersenyum, menunggu jawaban atas pertanyaan ayah. Sang guru menggeleng. Dia meraih sepotong bamboo panjang, lantas menusuk-nusuk dasar danau. Ayah berseru, mencegahnya. Itu akan membuat air danau keruh. Benar saja, lantai danau yang terbuat dari tanah langsung mengeluarkan kepul lumpur kecokelatan. Dalam sekejap, danau bening itu musnah. Sang guru menepuk-nepuk bahu ayah lalu berkata, ‘kau pikirkan lagi, tahun depan aku akan kembali”.
Ayah diam sejenak menarik napas pelan.
“kau tahu, Dam. Ayah seperti dipermainkan. Apa lagi yang kurang dari danau ayah? Dua tahun sia-sia. Baiklah, ayah tahu apa yang harus ayah kerjakan. Ayah memutuskan menggali danau sedalam mungkin hingga menyentuh dasar bebatuan, meneytuh mata airnya. Setahun berlalu, ayah masih berkutat menyingkirkan tanah-tanah, kedalam danau sudah sepuluh meter. Sang guru datang, melihat dengan takzim ayah yang sibuk bekerja. Dua tahun berlalu, setelah kerja keras siang malam, akhirnya ayah berhasil menyentuh dasar bebatuan. Air keluar deras dari sela-sela bebatuan. Ayah tertawa senang, semua parit ayah tutup. Danau itu sempurna hanya digenangi air dari mata air sendiri.
“sang guru datang pada hari yang dijanjikan. Dia tertawa renyah melihat danau yang bagi Kristal air mata. Tetap bening meski ada yang menusuk-nusuk dasarnya, tetap dengan cepat kembali bening meski ada air dari parit yang bocor dan sejenak membuat keruh. Sang guru menatap ayah, bertanya apakah ayah masih butuh penjelasan atas pertanyaan itu. Ayah menggeleng. Hari itu ayah sudah tahu jawabannya, Dam. Setelah lima tahun bekerja keras, hanya untuk memahami sebuah kebijaksanaan hidup sederhana, ayah tahu jawabannya.
“itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagian sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita.  Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.
“berbeda halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Mata air dalam hati itu konkret, Dam. Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kau mendapatkan kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang atas kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang-orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih, bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik, dia dengan segera iri hati dan gelisah. Padahal apa susahnya ikut senang.
“itulah hakikat sejati kebahagiaan, Dam. Ketika kau bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih.
“apakah ibu kau bahagia?saat dia terkenal, kaya, dan berpengaruh. Semua orang mengelilinginya. Semua orang memujanya. Dia bintang televise pada masanya. Hingga kesedihan itu tiba, hanya dari sebuah parit yang kotor, sedikit saja air keruh itu. Ketika hati kau tidak memiliki mata air sendiri, dengan segera kotor semua danau indah milik kau. Dia jatuh saat menghadiri pesta besar. Dokter bilang, usianya tidak akan lebih dari dua tahun. Itu parit keruh yang besar sekali, seketika meruntuhkan seluruh kebahagiaan atas kekayaan, keterkenalan, dan pengaruhnya.
“ibu kau kehilangan gairah hidup. Orang-orang disekitarnya, saat tahu kabar itu, bergegas pergi meninggalkannya. Tidak ada masa depan bekerja bersamanya. Mereka mencari bintang baru, kecantikan baru. Hati ibu kau semakin kotor, bahkan mungkin hitam pekat. Dia mencari pelarian, melampiaskan kesedihan dengan cara keliru.
“ayah bertemu dengannya saat pesawat kami mengalami keterlambatan dua belas jam. Wajahnya pucat, tangannya sering gemetar. Dia harus menjalani terapi ketergantungan obat. Kami berkenalan. Aku tidak tahu kenapa dia tertarik berbicara dengan ayah, bahkan mau mendengarkan begitu saja cerita-cerita petualangan ayah. Saat ayah menceritakan kolam para sufi, danau bening yang ayah bangun selam lima tahun itu, dia menangis tersedu. Ayah bingung, dia malah memeluk ayah, bilang bahwa cerita itu benar sekali. Kebahagiaan itu datang dari hati sendiri, bukan dari orang lain, harta benda, ketenaran, apalagi kekuasaan. Tidak peduli seberapa jahat dan merusak sekitar, tidak peduli seberapa banyak parit-parit itu menggelontirkan air keruh, ketika kau memiliki mata air sendiri dalam hati, dengan cepat danau itu akan bening kembali.
“dia menikah dengan ayah enam bulan kemudian. Ayah membawanya ke si raja tidur setahun kemudian, mendengarkan kesimpulan menyedihkan itu. Kami bicara malam itu. Ibu kau bilang, dia setidaknya bisa bertahan setahun lagi, tidak masalah. Dan kau lahir, Dam. Energi kebahagiaan saat melihat kau menangis menyambut kehidupan membuat ibu kau bertahan enam tahun. Kau masuk sekolah, mengenakan seragam, itu membuatnya bertahan tiga tahun lagi. Kau SMP, kau masuk akademi Gajah. Ibu kau bahkan bertahan lebih lama dibandingkan perkiraan si raja tidur. Ibu kau bahagia, Dam, meski harus melupakan hari-hari hebatnya. Meski hidup sederhana, tidak memiliki perhiasan, kemana-mana naik angkutan umum. Dia paham, dan dia memilih jalan itu, karena ayah jauh-jauh hari juga sudah memilih jalan itu.
“ayah tidak menjadi hakim agung. Ayah memilih jalan hidup sederhana. Berprasangka baik ke semua orang, berbuat baik bahkan pada orang yang baru dikenal, menghargai orang lain, kehidupan dan alam sekitar. Itu jalan hidup ayah. Dan itu juga yang dipilih ibu kau. Apakah ayah dan ibu kau bahagia? Kalau kau punya hati yang lapang, hati yang dalam, mata air kebahagiaan itu kan mengucur deras. Tidak ada kesedihan yang bisa merusaknya, termasuk kesedihan karena cemburu, iri atau dengki dengan kebahagiaan orang lain. Sebaliknya, kebahagiaan tas gelar hebat, pangkat tinggi, kekuasaan, harta benda, itu tidak akan menambah sedikitpun beningnya kebahagiaan yang kau miliki.
“apakah ibu kau bahagia, Dam? Kau sekarang tahu jawabannya”.

Duplicate from Tere-Liye
AYAHKU [BUKAN] PEMBOHONG
Kebumen, 20 Januari 2013
DhieFie Syahida
“bagaimana dengan danaumu kawan?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kausalitas

Senja sore ini langit begitu merah merayu….. memanjakan rasa lelah setelah sehari beraktivitas. Tidak heran seorang perempuan paruh baya men...