Kamis, 18 Oktober 2012

perubahan

ketika aku masih muda dan bebas berkhayal
aku bermimpi ingin mengubah dunia
seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku
kudapati bahwa....
dunia tak kunjung berubah

maka cita-cita itu pun aku persempit
lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku
namun nampaknya...
hasrat itu tiada hasilnya

ketika usiaku semakin senja
dengan semangat yang masih tersisa
kuputuskan untuk mengubah keluargaku
tetapi celakanya....
mereka pun tiada mau diubah

dan kini
sementara aku terbaring saat ajal menjelang
tiba-tiba kusadari....

"andaikan yang pertama-tama aku ubah adalah diriku
maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan
mungkin aku bisa mengubah keluargaku
lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka
bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku
kemudian siapa tahu
aku bahkan bisa mengubah dunia"

author unknown

"...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..." [Q.S. ar-Ra'd 13:11]

dia.... adalah ibu bagi anak2nya

“Kesaktian kasih ibu”

Seorang ibu adalah yang tak pernah berhenti memikirkan anak-anaknya. Dalam sehatnya, dalam sakitnya.  seorang ibu tetap menanyakan anak-anaknya, Bagaimana kehidupannya, bagaimana usahanya, bagaimana ibadahnya, ibu terus mengawasi  perkembangan anak-anaknya, tak peduli sudah berkeluarga atau belum.
Sakitnya ibu adalah sakitnya anak-anak, kabar sakitnya ibu menyesakkan dada anak-anaknya. Meninggalkan semua pekerjaan untuk melihat kondisi ibu tersayang. Untuk sesaat ibu merasa bahagia melihat semua anak-anaknya berada disampingnya. Dalam sakitnya ibu kembali menanyakan tentang kehidupan anak-anaknya. Untuk sejenak karena sakitnya ibu, anak-anaknya baru bisa mengusahakan pulang, untuk sesaat karena sakitnya membuat anak-anaknya mengingat ibu, karena sakitnya membuat anak-anak untuk berbakti, dan karena sakitnya...... kenapa ibu harus sakit dulu demi melihat anak-anaknya....., kenapa karena sakitnya???
Namun dalam sakitnya, di sepertiga malam, dalam tahajudnya ibu menyebut nama anak-anaknya satu persatu. Dalam do’a panjang yang berbalut dinginnya malam yang menusuk tulang, ibu pun tetap memohon pada Yang Kuasa untuk kebaikan anak-anaknya.
Ibu  yang tak pernah berhenti memikirkan anak-anaknya, ibu yang selalu mengusahakan kehidupan yang baik untuk anak-anaknya, ibu yang selalu ada buat anak-anaknya, ibu yang selalu menyembunyikan tangisnya di hadapan anak-anaknya, ibu yang selalu tegar demi anak-anaknya, ibu yang selalu mampu berdiri mengdampingi kepincangan anak-anknya, ibu yang selalu membela anak-anaknya.
Demi Tuhan...... ia adalah seorang ibu yang selalu ada untuk anak-anaknya. Kasihnya yang tak pernah usang meski ditelan umur.
Maafkan kami bu, yang baru sedikit berbakti padamu......
Yogyakarta, 1 oktober 2012
Hari kesaktian pancasila  (hari kesaktian kasih ibu)
Dedicate for my mother
By
Dhie Fie Sayhida


“Ibuku superheroku”

Sedingin es dimusim salju
Tanpa cahaya menerangi bumi
Dingin menyelimuti hariku
Tungku perapian tak bisa buatku hangat
Namun pelukan ibu…..
Laksana surya menyinari alam
Aku tak perlu selimut ataupun perapian
Kehangatannya selalu kurasa
Meski dia jauh, aku jauh
Pancaran kasihmu tak pernah jauh
Ibu……begitu tegar
Melabihi karang yang selalu dihempas ombak
Lautan maafmu…..
Tak bisa ku analogikan

Tangisku adalah senandung bagimu
Senyumku adalah ceriamu
Pesona cleopatra memudar
Saat engkau berdiri pada dunia
Dan…..Saat kubayangkan parasmu
Lebih indah dan sejuk
Dibanding lukisan nyata
Pelangi dan langit biru
Cinta kasihmu……
Kekuatan asaku melangkah

Superman, batman, spiderman
Aku tak butuh mereka
Karena ibu-ku, super hero-ku

by

Dhie_Fie Syahida



dia adalah temanku

“Hadapi bukan hindari”

Tentang sebuah mimpi yang masih tersigap dalam ingatanku. Bahwa semua itu ada dalam hidupku namun belum menjadi nyata. Tentang sebuah mimpi yang masih berliku jalannya untuk kutempuh, tersandung, dan kadang kala berujung pada kebuntuan, berbalik arah menjadi jalan yang harus kupilih karena tembok di depan terlalu tinggi untuk kuloncati, terlalu keras untuk ku hancurkan. Memutar arah, berarti butuh waktu untuk kembali  kejalan tadi dan mencari jalan yang lain.
Ini ada sebuah kesalahan tentang sebuah mimpi yang kususun dalam satu jalan saja. Kerikil, batu, berlikunya jalan, tanjakan dan kebuntuan tak pernah kuperhitungkan sebelumnya, karena aku hanya tau berjalan dan berjalan. Hingga akhirnya aku sering terjatuh dan terjatuh.
Tentang sebuah mimpi yang kini mulai usang dalam ingatanku...... mulai tidak mengerti bagaimana harus berjalan lagi di jalan itu. “ah..... biar saja aku berhenti disini”, selalu ada suara-suara yang berusaha mematahkan kakiku untuk berjalan. Dan aku pun lelah untuk mendengar suara-suara itu, hingga kuputuskan menutup telingaku rapat-rapat, tp ternyata tak pelak dari telingaku, hingga suara itu menggema dan tersimpan dalam ingatanku. Seolah seperti hantu yang selalu mengikutiku.
Salah..... salah.... harusnya aku tak sekedar menutup telinga, harusnya aku menutup mulut-mulut mereka juga. Menutup mulut mereka dengan sebuah penyelesaian yang baik bukan hanya sekedar menghindari, menyelesaikan apa yang mereka perbincangkan tentang kepincanganku. tak ada pilihan lain untuk menutup mulut mereka adalah dengan aku sembuh dari kepincanganku. Dan kembali melangkah di jalan yang telah kususun kembali, bukan hanya satu arah, tapi banyak cabang di sana, cabang-cabang yang menghubungkan antara mimpi-mimpiku dan tujuanku. Jika nanti jalanku buntu diujung, maka aku punya persimpangan agar aku berbelok arah, bukan berbalik arah dan takan pernah lagi kutemui kebuntuan di jalan mimpiku.
Namun suara-suara mereka akan selalu muncul dalam setiap perjalananku, tapi kini aku tak pernah menganggapnya serius, itu hanya batu loncatan ketika aku harus menaiki sebuah tangga, tangga-tangga keberhasilan tentunya.
Masih tentang sebuah mimpi yang kini mulai ada pencerah. Dan akan kusambut itu dengan senyuman untuk menyumbat perbincangan mereka dari kepincanganku......
Ternyata dengan tak lagi pincang suara itu mereda....
Dengan selesainya tugasku, suara itupun telah menghilang...
Dan akhirnya dengan senyuman, ku songsong masa depanku......

“kepincanganku harus kuselesaikan sendiri dengan bijak”
“Bukan menutup telingaku, tapi menutup mulut mereka dengan kerja kerasku”
“Bukan menghindari, tapi menghadapi”
“Bukan hanya satu arah, tapi banyak arah”
“Bukan hanya untuk disimpan sendiri, tapi untuk orang lain”
“Bukan hanya satu teman, tapi banyak teman”
“Dari semua itu hanya ada yang benar-banar satu...... it’s my God”

@eidelwis yogyakarta, 26 september 2012
Dedicate for my self and my friends Asniyah Naila Sariy n  Nur Faizah
By
Dhie Fie Syahida


Kausalitas

Senja sore ini langit begitu merah merayu….. memanjakan rasa lelah setelah sehari beraktivitas. Tidak heran seorang perempuan paruh baya men...